Inspiratif Wanita Indonesia
Sabtu, 20 Desember 2014
"PERGANTUNGAN JIWAKU, ZAINUDDIN"
"PERGANTUNGAN JIWAKU, ZAINUDDIN"
Sungguh besar sekali harapan saya untuk hidup didekatmu
Supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa terlaksana
Supaya dapat kesalahan besar saya yang telah perbuat terhadap dirimu, saya tebus semua
Tetapi, cita-citaku ini tinggal selamanya menjadi cita-cita
Sebab kau sendiri yang menutup pintu dihadapanku
Saya mengharamkan saya memasukinya
Sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam, sakitan yang telah lama bersarang dalam dirimu
Lantaran membalas dendam itu, engkau ambil keputusan yang maha kejam
Engkau regut tali pengharapanku
Padahal pada tali itu pula pengharapanmu sendiri bergantung
Sebab itu percayalah Zainuddin
Bahwa hukuman ini dapat mengenai diriku seorang
Bukan ia menyimpan celaka padaku saja
Tetapi pada kita berdua
Karena saya tahu bahwa engkau masih tetap cinta kepadaku
Zainuddin, kalau saya tak ada hidupmu juga tidak akan beruntung
Percayalah, didalam jiwaku ada satu kekayaan yang besar yang engkau sangat perlukan
Dan kekayaan itu belum pernah kuberikan kepada siapapun walaupun kepada Aziz
Kekayaann itu ialah kekayaan cinta
Seandainya kau terima kembali kedatanganku
Saya tidak akan meminta balasan apa-apa kepadamu
Balasan yang aku minta dari cinta suciku hanyalah dari ALLAH
Supaya engkau diberiNya bahagia
Balasan yang kedua yang saya harapkan
Adalah supaya saya dapat selalu di dekatmu selamanya
Zainuddin
Engkau akan peroleh seorang perempuan yang suci batinnya, suci jiwanya
Belum pernah disentuh orang lain
Hatinya belum pernah dirampas orang
Dan tidak ada bedanya dengan permatamu yang hilang
Dan dengan gadis Batipuh yang engkau cintai dua dan tiga tahun yang lalu
Yang gambarnya tergantung di kamar tulismu
Tetapi sungguhpun kesalahanmu kepadaku telah kumaafkan
Sebab ia lantaran aku cinta akan engkau
Dan karena saya tahu, engkau lakukan semua lantaran cintamu kepadaku
Saya akan pulang
Hanya dua yang akan kutuju di Batipuh
Pertama, menunggu kedatangan engkau menjemputku kembali
Kedua, menunggu maut datang menjemputku apabila kau tak pernah datang kembali menjemputku
Cuma satu pengharapan yang terakhirku
Heningkan hatiku kembali
Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah
Maafkan saya
Cintai saya kembali
Zainuddin, engkaulah yang terpatri dalam do'a ku
Bila saya menghadap tuhan di akhirat kelak
Kalau aku mati dahulu daripadamu
Jangan kau berduka hati
Melainkan sempurnakanlah do'a kepada Tuhan
Selamat tinggal Zainuddin
Selamat tinggal wahai orang yang kucintai di dunia ini
Aku cinta akan dikau
Semoga hati kita sama-sama dirahmati Tuhan
Selamat tinggal Zainuddin, Aku cinta akan engkau
Dan kalau ku mati, adalah kematianku dalam mengenang engkau
-HAYATI
Kamis, 18 Desember 2014
Kupinang Engkau Dengan Al-Qur'an
Seperti api yang menemukan kayu
Membakar dan menghanguskan
Seperti panas yang mencairkan batuan es
Hingga dingin itu menjadi salju
Seperti ombak yang menghantam karang
Bergeming, tapi pasti akan terkikis
Sedikit demi sedikit
Menghujam sanubari
Dan, terasa resah yang menyesak saat nafsu membisikkan
Untuk sekedar menatap
Untuk sekedar menyapa
Untuk sekedar berbicara
Disini, ada hak yang terkapar karena membuat hatiku selalu gundah
Ada yang salah dengan imanku
Karena, aku mulai tergoyahkan dengan apa yang kupandang indah
Ada yang mengganggu keteguhan imanku
JIka jatuh cinta
Cukup satu yang bisa keyakinan : Jatuh itu sakit
Dan, tentang sikap yang membuat ku resah ini memang begitu sakit
Semoga aku bisa melabuhkan cintaku hanya karena Allah
Di bawah naungan al-Qur'an kujadikan fondasi cinta
Biarlah aku terus merasa jatuh
Tapi, aku akan bangkit untuk membangun cinta
Cinta yang bisa mengggapai surga
Kan kupinang kamu dengan Al-Qur'an
Membakar dan menghanguskan
Seperti panas yang mencairkan batuan es
Hingga dingin itu menjadi salju
Seperti ombak yang menghantam karang
Bergeming, tapi pasti akan terkikis
Sedikit demi sedikit
Menghujam sanubari
Dan, terasa resah yang menyesak saat nafsu membisikkan
Untuk sekedar menatap
Untuk sekedar menyapa
Untuk sekedar berbicara
Disini, ada hak yang terkapar karena membuat hatiku selalu gundah
Ada yang salah dengan imanku
Karena, aku mulai tergoyahkan dengan apa yang kupandang indah
Ada yang mengganggu keteguhan imanku
JIka jatuh cinta
Cukup satu yang bisa keyakinan : Jatuh itu sakit
Dan, tentang sikap yang membuat ku resah ini memang begitu sakit
Semoga aku bisa melabuhkan cintaku hanya karena Allah
Di bawah naungan al-Qur'an kujadikan fondasi cinta
Biarlah aku terus merasa jatuh
Tapi, aku akan bangkit untuk membangun cinta
Cinta yang bisa mengggapai surga
Kan kupinang kamu dengan Al-Qur'an
Sabtu, 18 Oktober 2014
Bentuk Layanan PAUD
Kompetensi Profesional Pendidik PAUD
PROFIL LAYANAN PAUD dalam MASYARAKAT
Kelompok 5
Dwi Annisa Fitri
Fatimah
Fauziah
Dosen
Dahliarti Rusli, M.Pd
Jurusan Tarbiyah Program Studi Ilmu Pendidikan Anak Usia Dini Islam
(IPAUDI) A
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)
Batusangkar
2014
PEMBAHASAN
A. Bentuk Layanan PAUD
1. Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)
Awal melayani ibu hamil yang memerlukan
perawatan kehamilan dan persalinan. Di daerah pedalaman, di mana ibu melahirkan
di rumah, kebanyakan persalinan dibantu oleh bidan dan dukun beranak. Klinik
bersalin dan rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta, biasanya hanya
terdapat di kota. Layanan kesehatan anak (misalnya imunisasi dan pengobatan
berbagai penyakit yang lazim diderita anak-anak) tersedia di puskesmas ini.
2. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu)
Posyandu pada awalnya adalah Pos Pelayanan
Terpadu yang merupakan pusat kesehatan masyarakat tempat ibu-iu hamil dan
menyusui menerima perawatan kesehatan (misalnya gizi tambahan, imunisasi dan
lain-lain) untuk diri dan anak mereka. Sekarang posyandu tidak saja melayani
Ibu melainkan juga anak-anaknya sampai usia 6 tahun. Bahkan sekarang posyandu
memberikan pelayanan yang lebih luas untuk ibu-ibu, mereka mendapatkan
pelayanan posyandu 2 kali sebulan.
Selain menerima perawatan kesehatan, ibu-ibu ini di posyandu, juga dapat
belajar bagaiman menjadi orang tua yang
dapat memberikan pelayanan yang lebih baik pada anak-anaknya khususnya anak
usia dini.
Konsep posyandu meliabatkan para ibu yang
mengambil peranan sebagai pekearja kesehatan untuk warga setempat setelah
memperoleh pelatihan menjadi kader atau pemberi layanan utama dalam posyandu.
Para Ibu yang telah dilatih ini kemudian bekerja sama dengan para ibu lain
yaitu berkumpul sekali sebulan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan kkesehatan dan gizi anak. Posyandu merupakan liputan
terbesar di antara semua program pengasuhan dan perkembangan anak usia dini.
Namun, pada tahun 2000 liputan ini secara nasional turun menjadi 20%.
Penyebabnya diduga antara lain krisis ekonomi.
3. Bina Keluarga Balita
Program ini dulu oleh Badan Koordinasi
Keluarga Berencana (BKKBN) dirancang dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan ibu-ibu sebagai pengasuh anak usia 0-6 tahun. Tujuan utama dari
BKB adalah untuk menyediakan informasi tersebut bagi ibu-ibu mengenai
keterampilan orang tua, bagaimana membesarkan dan mengawasi perkembangan fisik,
emosi dan intelektual anak usia dini. Pada kegiatan selanjutnya ibu-ibu yang
sudah menjadi kader ini memfasilitasi pembentukan kelompok-kelompok orang
tua-anak. Kegiatan untuk ibu-ibu dan anak-anaknya ini berjalan pada awaktu yang
bersamaan.
Sejak didirikan pada tahun 1982, BKB telah
berkembang menjadi sekitar 244.567 kelompok BKB yang tersebar di seluruh
Indonesia. Pada tahun 2000 BKB merupakan pemberi layanan terbesar (9,5%) bagi
anak berusia 0-6 tahun. Satu dari sepuluh orang tua terlibat dalam BKB
(UNICEF,2000). Akses terhadap program dan
peran serta masyarakat bervariasi dari provinsi ke provinsi. BKB sekarang
disatukan dengan Posyandu yang menekankan kembali fungsi menjadi orang tua yang
nantinya bias melayani anaknya yang masih usia dini. Baik Posyandu maupun BKB
dilakukan oleh kader yang terlatih.
4. Taman Kanak-kanak (TK)
Terdapat dua bentuk Taman Kanak-Kanak, yaitu
(a) Taman Kanak-kanak umum dan (b) Taman Kanak-kanak Islam yang lebih dikenal
dengan Raudhatul Athfal (RA). TK Islam ini memiliki program-program utama untuk
pengasuhan dan pendidikan anak usia dini bagi usia 4 hingga 6 tahun sebelum
mereka masuk sekolah dasar. Sesuai dengan umur anak-anaknya, maka di Taman
Kanak-kanak itu ada yang disebut: Kelompok B terdiri dari anak-anak usia 5-6
tahun. Departemen Pendidikan Nasional melalui Derektorat TK dan SD bertanggung jawab
atas pengawasan TK, sementara RA disupervasi oleh Departemen Agama.
Baik TK maupun RA berkembang pesat. Tercatat
pada tahun 2000 saja tingkat partisipasi lasar anak yang mengikuti pendidikan
di TK/RA naik dari 6% tahun 1970 menjadi 19% tahun 2000. Namun aksesnya masih
terbatas hanya untuk orang-orang tertentu saja (mampu membayar seluruh
ketentuan TK/RA). Kondisi objektif pendidikan TK di Indonesia menunjukkan bahwa
daya tamping TK yang ada belum mampu memberikan kesempatan kepada semua anak
usia 4-6 tahun untuk memperoleh layanan pendidikan TK. Menurut Pusat Statistik
Pendidikan, 2000/2001 ada sejumlah ± 41.746 TK yang dapat menampung 13,74%
(1.628.167 anak) dari sebanyak 11.845.629 anak usia 4-6 tahun. Taman
KAnak-kanak tersebut sebagian besar diselenggarakan oleh masyarakat yaitu
berkisar 99,8% dan sisanya diselenggarakan oleh pemerintah adalam Taman
Kanak-kanak Negeri dan Taman Kanak-kanak Negeri Pembina yang berjumlah 424
(Pusat Statistik Pendidikan, Depdiknas; 2002). Dari 424 TK Negeri ini TK Negeri
Pembina hanya berjumlah 234 buah, selebihnya TK negeri biasa.
Jika kita mengingat jumlah Taman Kanak-Kanak
Negeri Pembina yang sangat terbatas tersebut, sementara tugas dan fungsinya
yang sangat strategis sebagaimana telah diuraikan sebelumnya maka diperlukan
maka diperlukan adanya peningkatan peran dan fungsi TK Pembina sehingga dapat
menjadi contoh bagi TK di sekitarnya. Ini sejalan dengan Propenas (2000-2004)
yang menyatakan bahwa salah satu program pembinaan pendidikan pra-sekolah
adalah meningkatkan kualitas layanan.
Untuk mengoptimalkan tugas dan fungsi TK
Negeri Pembina tersebut, maka diperlukan upaya yang efektif dan efisien.
Peningkatan TK Negeri Pembina sebagai contoh dan model bagi TK, secara teoretik
harus berangkat dari keberadaan/profilnya. Oleh karena itu. Untuk pembinaan
tugas dan fungsi TK Negeri Pembina diperlukan data tentang keadaan/profilnya.
Data yang diperlukan adalah (a) Proses kegiatan belajar, (b) Anak Didik, (c)
Ketenangan, (d) Sarana dan prasarana, (e) Menajemen, (f) Pembiayaan, dan (g)
Peran serta masyarakat. Oleh karena jumlah TK sangat terbatas dan fungsinya
sangat strategis untuk meningkatkan pendidikan, maka sebaiknya perlu dilakukan
pemetaan terhadap keberadaan/profilnya yang tersebar di deluruh wilayang
Indonesia mulai tingkat provinsi sampai pada TK Negeri Pembina kabupaten/kota.
5. Taman Penitipan Anak (TPA)
Taman Penitipan Anak adalah salah satu bentuk
PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan,
sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan social terhadap anak, sejak lahir sampai
dengan usia 6 tahun (dengan prioritas anak usia 4 tahun ke bawah). TPA
merupakan lembaga pelayanan pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu bagi
anak yang orang tuanya bekerja.
TPA merupakan bentuk PAUD yang benar-benar
bersifat holistik. Keseluruhan aspek kehidupan anak mulai dari gizi, kesehatan,
pendidikan dan sentuhan psikososial lainnya diberikan sekaligus dalam kegiatan
pendidikan, perawatan dan pengasuhan di Taman Penitipan Anak. TPA merupakan
cerminan PAUD nonformal yang utuh, yakni sebagai pengganti, penambah, dan
pelengkap PAUD jalur formal. Artinya jika lembaga PAUD Formal belum tersedia
dan masyarakat menghendaki, TPA dapat memberikan layanan PAUD non formal sampai
anak memasuki pendidikan dasar. Tujuan didirikannya TPA antara lain untuk (a)
Menjamin tumbuh kembang anak berupa pengasuhan, rawatan, dan pembinaan melalui
proses sosial dan pendidikan anak sebaik mungkin, (b) Menyediakan kesempatan
bagi anak untuk memperoleh kelengkapan asuhan, rawatan, pembinaan dan
pendidikan yang baik sehingga dapat menjamin kelangsungan hidup, tumbuh
kembang, perlindungan dan partisipasi bagi anak, (c) Menghindarkan anak dari
kemungkinan memperoleh tindakan kekerasan atau tindakan lain yang akan mengganggap
atau mempengaruhi kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak serta pengembangan
kepribadian anak, (d) Membantu orang tua atau keluarga dalam memantapkan fungsi
keluarga khususnya dalam melaksanakan pembinaan kesejahteraan anak di dalam dan
di luar keluarga.
Beragam kondisi masyarakat dengan masyarakat
dengan ciri khas masing-masing di daerah, menjadikan bentuk TPA bervariasi
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terdapat lima pengelompokan TPA, yaitu: (a)
Taman Penitipan Anak Perkantoran, (b) Taman Penitipan Anak Pasar, (c) Taman
Penitipan Anak Lingkungan (perumahan), (d) Taman Penitipan Anak Perkebunan, dan
(e) Taman Penitipan Anak Rumah.
Depertemen Sosial bertanggung jawab atas
komponen-komponen perawatan anak dan layan sosial dari program TPA. Departemen
pendidikan dan kurikulum dari program ini. Taman Penitipan Anak menyediakan
pendidikan untuk anak usia 3 tahun sampai 6 tahun sementara orang tua mereka
(terutama ibu) bekerja.
6. Kelompok Bermain (KB)
Kekompok Bermain adalah salah satu bentuk
layanan pendidikan bagi anak usia dini khususnya usia tiga sampai enam tahun
sesuai pasal 28 UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003. Kelompok Bermain menganut
prinsip multi disiplin secara terintegrasi dengan profesi utama sebagai bentuk
pelayanan sosial. Pada prinsipnya Kelompok Bermain didirikan untuk memnuhi
hak-hak anak melalui pelayanan sosial anak seperti pembelajaran sosialisasi
anak, kegiatan bermain dan pengembangan prilaku anak. Hakikat didirikannya
Kelompok Bermain adalah untuk mengangkat harga diri anak dan keluarga melalui
penyediaan fasilitas permainan. Pelayanan yang diberikan, menjamin anak dan
keluarganya mampu melakukan berbagai penyesuaian sosial sesuai tuntutan dan
kebutuhan yang selalu berkembang.
Kegiatan di Kelompok Bermain diarahkan untuk
mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin sesuai tahap tumbuh kembang anak,
melalui kegiatan bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Oleh karena
itu, program Kelompok Bermain tidak secara khusus dirancang untuk mempersiapkan
anak masuk sekolah, walaupun dalam KB dikembangkan peningkatan potensi diri
anak yang sesuai aspek pengembangan. Hal ini anak secara tidak langsung juga
membantu mereka ketika memasuki pendidikan dasar.
Sebaian masyarakat berpendapat bahwa Kelompok
Bermain adalah salah satu bentuk pendidikan sebelum Taman Kanak-Kanak sehingga
anak-anak yang mengikuti kegiatan ini berusia sekitar 2,5 tahun – 4 tahun.
Pendapat masyarakat tersebut ada benarnya karena kenyataannya selama ini
menunjukkan bahwa KB merupakan pula Taman Kanak-Kanak. Namun, sejak lahirnya UU
No. 20 tahun 2003 maka pendapat itu tidak tepat lagi, karena KB mempunyai
sasaran (anak didik) sejak usia 3-6 tahun. Sasaran KB sendiri secara garis
besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
(1) Kelompok usia 3-4 tahun
(2) Kelompok usia 4-5 tahun
(3) Kelompok usia 5-6 tahun
Pada kelompok ini anak-anak akan mengikuti
pembelajaran di KB yang dikenal dengan play group dan kemudian
melanjutkannya ke TK. Seperti halnya TK, hamper senua KB di kelola oleh
masyarakat. KB yang dikelola oleh pemerintah adalah yang diselenggarakan oleh
sanggar-sanggar kegiatan belajar (SKB) di beberapa kabupaten/kota. Intansi yang
membina KB adalah Departemen Sosial, Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas
Sosial/Dinas Pendidikan di tingkat propinsi dan kabupaten/kota.
B. Lembaga yang Terkait Dengan PAUD
1. Departemen Kesehatan
Memfasilitasi program kesehatan, gizi anak, dan keluarga balita.
2. Departemen Pendidikan Nasional
Memfasilitasi program PAUD dan pendidikan keluarga melalui jalur sekolah
dan luar sekolah.
3. BKKBN
Memfasilitasi program pemberdayaan keluarga dalam pengasuhan anak
usia dini.
4. Depdagri :
Memfasilitasi pola koordinasi program PAUD di daerah
5. Depag : Memfasilitasi PAUD dalam bidang Agama
Senin, 06 Oktober 2014
::Seputar
Tentang CINTA::
Part I
Aku tidak tahu bagaimana unttuk
melupakanmu
Apa yang harus ku lakukan?
Bisakah kamu mengajariku?
Untuk orang yang hidup setiap hari
Kamu bilang, aku ingin melihat
mataku dan tertawa
Didalam diriku masih seperti itu
Kau bernapas
Hal pertama yang aku pelajari
Untuk tidak menangisi tanpa dirimu
Kedua, unruk tidak sendirian
Ketiga, walaupun ini menyakitkan,
untuk tidak memanggil namamu
Dan tidak untuk memegang kedua tangan hangatmu
Mencoba untuk tersenyum tanpamu
disetiap waktu
Bukan berarti hanya untuk memegang
Bahkan jika hanya untuk menyebut
namamu
Ketika aku sedih atau terluka
Aku tidak pernah menemukan kedua
hangatmu
#Asa (Dwi
Annisa Fitri)
Sabtu, 13 September 2014
Lingkungan Bermain PAUD ^_^
BERMAIN
Tetang
LINGKUNGAN
BERMAIN
Oleh Kelompok 7
BETTY
MULYANI
DWI ANNISA FITRI
LASTRI
Dosen
FITRIYANI,
M.Pd
PRROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI ISLAM (A)
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
2014
PEMBAHASAN
A. Lingkungan
Belajar Dan Bermain Di Tk
Penggunaan dan pengaturan lingkungan belajar merupakan suatu
kegiatan yang didasarkan atas berbagai pertimbangan. Baik yang terkait dengan
pengembangan anak secara optimal, maupun yang terkait dengan luasnya ruangan
yang tersedia, ataupun bahan-bahan dan peralatan yang ada.
Keberhasilan pelaksanaan program untuk pendidikan di TK
sangat tergantung dari cara pengaturan lingkungan belajar dan bermain serta
penggunaan alat permainan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kesenangan
anak didik untuk bersekolah dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, maka
pengaturan lingkungan, alat permainan pada khususnya dan sumber belajar pada
umumnya harus rapi, menarik, dan dengan efisiensi yang tinggi sehingga dapat
dinikmati dan dirasakan oleh anak.
1.
Prinsip-Prinsip Pengaturan Lingkungan Belajar Dan Bermain Anak
a. Tingkat
Perkembangan Anak
Pengaturan lingkungan belajar dan
bermain perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, baik dalam segi
perkembangan kognitif, motorik, bahasa, maupun psikososial.
b. Stimulasi
Perkembangan Anak
Lingkungan belajra dan bermain
hendaknya diatur dengan tujuan untuk menstimulasi perkembangan anak. Oleh sebab
itu, lingkungan tersebut harus memberikan kesempatan yang luas kepada anak
untuk eksplorasi, penyelidikan, interaksi sosial, komunikasi, dan peningkatan
kemampuan koordinasi gerakan motorik.
c. Menghindarkan
Anak Cedera
Lingkungan belajar dan bermain harus
ditata sedemikian rupa sehingga dapat mengindarkan anak dari kemungkinan
mendapat cedera. Penempatan alat-alat, pemilihan alat permainan dan pengaturan
ruangan perlu memperhatikan keselamatan anak. Setiap guru harus menyadari
perlunya merancang dan mengorganisasikan lingkungan belajar anak dengan tujuan
agar anak selalu tertarik dan terstimulasi untuk mau belajar.
d. Informasi yang Berkaitan
dengan Anak yang Akan Mengikuti
Kegiatan
Belajar
Walaupun melalui informasi tersebut
hanya sedikit yang diketahui oleh guru, tetapi informasi tersebut tetap akan
menjadi sumber pengetahan bagi masing-masing guru. Informasi tersebut berupa
catatan atau laporan tertulis yang dapat diperoleh guru beberapa waktu sebelum
sekolah dimulai. Melalui pertemuan pertama dengan murid yang datang bersama
orang tua akan menambah informasi sehingga kelas dapat dirancang dan
diorganisasikan oleh guru sesuai anak didik yang telah diterima.
e. Kegiatan Harus
Dilakukan Anak yang Berkaitan dengan Tujuan Khusus
yang Hendak
Dicapai
Apabila tujuan khusus pembelajaran
adalah pengembangan keterampilan sosial maka guru perlu mengatur ruangan atau
lingkungan belajar yang memberi kesempatan pada anak untuk berinteraksi di
dalam kerja kelompok. Misalnya, guru mengatur tempat yang menarik minat anak
untuk berinteraksi di dalam kelompok, seperti menyediakan sudut permainan drama
atau bermain dan lain sebagainya.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan guru adalah kebutuhan
ruang bagi masing-masing anak baik di dalam maupun di luar ruang belajar, untuk
memberikan kebebasan bergerak pada masing-masing anak.
B. Perencanaan Lingkungan Belajar Dan Bermain Di
Tk
1. Perencanaan Harian
Perencanaan harian perlu dibuat oleh guru karena
mempengaruhi pengaturan lingkkungan belajar. Setiap rencana harian membutuhkan
peralatan dan pengaturan lingkungan belajar yang sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan. Keteraturan di sekitar anak-anak akan merangsang rasa
keteraturan di dalam diri mereka.
2. Kesehatan, Keamanan, dan Saniter
Perencanaan lingkungan belajar juga memperhatikan hal-hal
yang berkaitan dengan kesehatan, keamanan, juga saniter. Cahaya yang masuk
keruangan, temperatur ruangan, dan ventilasi yang cukup untuk pergantian udara.
Disamping itu, WC, kamar mandi, keran air yang diperlukan anak untuk mencuci
tangan. Kondisi saniter secara umum merupakan aspek lain dari kesehatan dan
keamanan yang perlu mendapatkan perhatian.
3. Keindahan , Stimulasi, dan Stimulasi
Lingkungan belajar juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan
dengan keindahan, informasi, dan stimulasi. Ruangan dan tempat-tempat lainnya
ditata sedemikian rupa sehingga menarik perhatian anak dan orang dewasa.
Keindahan tersebut hendaknya memberikan berbagai informasi kepada anak dan
menstimulasi anak untuk melakukan hal-hal yang diinformasikan.
C. Pengaturan Lingkungan Belajar Dan Bermain Di
Dalam Kelas
Hal-hal
yang harus diperhatikan yaitu :
- Susunan
meja dan kursi anak dapat diubah-ubah;
- Pada
waktu mengikuti kegiatan, anak-anak tidak selalu duduk di kursi, tetapi
dapat juga duduk di tikar/karpet;
- Penyediaan
alat peraga harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan;
- Pengelompokan
meja disesuaikan kebutuhan sehingga cukup ruang gerak bagi anak didik;
- Peletakan
dan penyimpanan alat bermain diatur sesuai dengan fungsinya;
- Berilah
batasan-batasan terhadap area-area yang terpisah;
- Identifikasi
area-area yang relatif memerlukan ketenangan;
- Perhatikan
ruangan-ruangan yang memerlukan meja karena anak TK lebih sering
menggunakan lantai atau ruangan-ruangan terbuka;
- Tempatkan
area-area kegiatan di dekat sumber-sumber yang diperlukan;
- Lengkapi
area-area kegiatan dengan cahaya yang cukup terutama untuk tempat membaca,
menulis, dan menggambar, serta merawat tanama; dan
- Ruangan
diatur sedemikian rupa sehingga guru dapat memantau secara maksimal dari
setiap lokasi untuk memastikan keamanan yang berarti memastikan setiap
anak selalu dalam pengawasan.
Begitu pula dengan perabotan/perlengkapan/bahan/peralatan
yang akan dipergunakan juga harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Keamanan, seperti :
- Tidak
tajam, tidak runcing, tidak ada paku yang menonjol,kawat yang lepas
- Tidak
mudah pecah;
- Tidak
mengandung racun; dan
- Tidak
menggunakan aliran listrik.
2. Sesuai dengan kondisi anak,
Materi yang dipilih harus disesuaikan dengan minat, usia,
dan kemampuan anak.
- Kualitas
dan Keawetan
Hendaknya alat yang dipergunakan di sekolah dapat tahan
lama, tetapi relatif murah. Karena di sekolah alat akan dipergunakan oleh
sejumlah anak secara bergantian dan terus-menerus sehingga harus dipilih yang
kuat.
1) Alat yang dipilih untuk sekolah
harus dapat dipakai untuk berbagai tujuan pembelajaran.
2) Perabot yang ada di dalam ruang
kelas sebaiknya mudah dipindah-pindahkan dan disesuaikan dengan ukuran anak.
D. Pengaturan
Lingkungan Belajar Dan Bermain Di Luar Kelas
Secara umum pengaturan lingkungan bermain di luar kelas
perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
- Keseimbangan
Area
Dapat
diwujudkan dengan menciptakan beberapa area sebagai berikut :
- Area
tubuh,
- Area
terbuka untuk sinar matahari,
- Area
melompat,
- Area
memanjat dan bergantungan,
- Area
mendaki,
- Area
untuk menanam/bunga-bungaan, dan
- Area
bermain pasir.
- Jalan
Kecil/Trotoar
Jalan kecil dubuat dari semen atau batu bata. Di jalan kecil
ini tidak ada satu barang pun yang ditempatkan karena akan mengganggu kebebasan
anak dan orang dewasa yang menggunakan jalan kecil tersebut.
- Pemilihan
Peralatan Bermain
Berbagai jenis peralatan bermain perlu disediakan bagi
lingkungan bermain di luar kelas, seperti peralatan untuk memanjat, meluncur,
bergantung, mendorang dan menarik, serta melempar dan menangkap.
b.
Tingkat Perkembangan dan Kebutuhan Anak
Agar anak terjaga rasa aman bermain di luar kelas harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1) Adanya pagar pengaman (tingginya
minimum 4 kaki),
2) Jarak area bermain,
3) Alat-alat yang dipergunakan
hendaknya sesuai dengan usia tahap usia anak,
4) Alat bermain sebaiknya dirancang
sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian yang tajam, runcing, dan mudah rusak,
5) Alat-alat hendaknya kuat dan tidak
mudah lepas bagian-bagiannya,
6) Tempat bermain harus bebas dari
aliran listrik yang membahayakan, dan
7) Pengawasan dari guru yang memadai.
E. Alat Permainan
Di Area Dan Kegiatan Di Dalam Dan Di Luar Kelas
1.
Alat-Alat Permainan Diarea Atau Sentara Kegiatan Didalam Kelas
Area kegiatan ini diselenggarakan diTK dengan ala-alat
permainan yang menarik dan dimaksudkan untuk menimbulkan suasana
yang menyenangkan dan keakraban sesama teman sehingga anak
merasa betah te\inggal disekolah.
Alat-alat permainan yang digunakan pada tiap-tiap area
adalah sebagai berikut:
a. Area atau sentra kesenian
Alat-alat yang dapat digunakan disentra kesenian adalah pensil
warna, cat, gunting, krayon, kapur tulis, kain perca, arang, benang, kelereng,
lem, kuas, plastisin, dan sebagainya.
b. Area atau
senra perpustakaan
Alat-alat yang
dapat digunakan disentra perpustakaan antara lain: rak buku, meja, kursi,
karpet, banta-bantal kecil, poster, lukisan, dan gambar-gambar lain yang memberikan
informasi.
c. Area atau sentra
bermain drama
Alat-alat yang
dapat digunakan disentrea bermain drama antara lain: perabotan dapur, lemari,
meja , kursi, meja makan, boneka, kostum binatang, celemek, sarung tangan, dan
lain-lainnya.
d. Area musik
Alat-alat yang
dapat digunakan diarea musik antara lain:piano, gitar, angklung, alat-alat
perkusi, alat musik buatan guru dll. Juga dapat menggunakan bahan dari alam
atau lingkungan sekitar.
e. Area permainan
balok dan logo/lego
Alat-alat yang
digunakan pada area balok antara lain, balok berbagai ukuran, lego/logo, kubus,
kardus bekas, rambu-rambu lalu lintas, binatang-binatangan, mobil-mobilan, dll
f. Area permainan
matematika
Alat-alat yang
digunakan di area ini adalah kartu-kartu angka, tutup botol, kerang,
batu-batuan, biji-bijian, puzzle, dll.
g. Area IPA atau
sains
Alat-alat yang
digunakan di sentra IPA berdasarkan topik dan aktivitasnya antara lain makhluk
hidup, binatang, tumbuhan, energi, ruang dan waktu.
h. Area / sentra
agama
Alat-alat yang
digunakan disentra agama adalah peralatan ibadah, gambar atau poster bacaan
atau do’a, gambar atau poster yang menunjukkan nilai moral/ budi pekerti dan
sebagainya.
F. Alat-Alat
Permainan Di Area/ Sentra Kegiatan Diluar Kelas
Alat-alat bermain diluar kelas yang disajikan hendaknya
dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak guna memupuk perkembangan jasmani,
intelektual, emosional, dan sosial. Tugas guru adalah memberi kesempatan kepada
anak untuk memperoleh berbagai pengalaman bermain dengan menggunakan berbagai
macam alat bermain dan memberi bantuan serta bimbingan pada saat-saat
diperlukan.
1. Area memanjat
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu anak memanjat
adalah :
- Anak
tidak dibiarkan memanjat, sementara tangannya memegang suatu benda
- Anak
secara bergantian dalam melakukan kegiatan ini
- Anak
tidak dibiarkan memanjat selain pada area yang diperbolehkan untuk
memanjat
- Area
bermain pasir dan air
Alat-alat yang dapat digunakan di area ini antara lain bak
air, bak pasir, botol, cangkir, mobil-mobilan dll.
2. Area melempar dan menangkap
Alat-alat yang dapat digunakan di area ini antara lain bola
kaki, bola basket, bola kasti, dll.
3. Area olah raga atau jasmani
Alat-alat yang dapat digunakan di area
ini antara lain simpai, papan titian, karet, kardus bekas, tali, lantai dll.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jadi alat-alat permainan yang diperlukan untuk kegiatan bermain dan belajar
anak di dalam kelas, disusun menurut sifatnya dan tujuan aktivitasnya dalam
kelompok-kelompok yang disebut area/ sentra kegiatan. Area kegiatan selalu
berorientasi pada anak sebagai pusat dan mengharapkan keaktifan anak.
Area-area yang terdapat dalam lingkugan bermain dan belajar
anak didalam kelas, antara lain :
- Area seni
- Area perpustakaan
- Area bermain drama
- Area musik
- Area permainan balok dan logo/lego
- Area permainan matematika
- Area IPA/ sains
- Area agama.
Area yang
terdapat dalam lingkungan bermain dan belajar di luar kelas antara lain:
- Area memanjat
- Area bermain pasir dan air
- Area melempar dan menangkap
- Area olah raga / jasmani
- Area alat-alat bermain lainnya.
B. Saran
Agar keberhasilan pelaksanaan program untuk pendidikan di TK
maka guru harus memperhatikan cara pengaturan lingkungan belajar dan bermain
anak serta penggunaan alat permainan di dalam kelas maupun di luar kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah,
Siti. 2005. Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Universitas Terbuka
Anggani,
Sudono. 2000. Sumber Belajar dan Alat permainan. Jakarta : Grasindo
Montolalu,
dkk. 2008. Materi Pokok Bermain dan Permainan Anak. Jakarta : Universitas
Terbuka
Yuke,
Indrati. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta : Pusat Kurikulum Depdiknas
Langganan:
Postingan (Atom)



