PERHIASAN DUNIA
Awal membaca “Perhiasan Dunia”, pasti yang kita
bayangkan pertama sekali adalah rumah mewah, mobil mewah, perhiasan (emas,
permata, dan intan) dan lain sebagainya. Eeeeits, disini ijinkan saya merangkai
kata-kata. Bukan “Rangkaian Kata” lagunya Gita Gutawa, tetapi mengenai wanita
shalihah bak perhiasan dunia.
Dalam
Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah
sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat
kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya
adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.
Wanita
shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya
seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat
mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar
bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar
betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita
shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya
tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman
manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah
bagi orang lain.
Wanita
shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus
bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui.
Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya
maupun orang lain.
Ia juga
selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah
kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata
dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang
menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang
iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin
buruk kualitas akhlaknya.
Pada
prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia
selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain.
Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak
hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya
sendiri.
Saat
mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah
merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari
sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya.
Pribadinya begitu indah sehingga make up apa pun yang dipakainya akan
memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit
pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang
di sekitarnya.
Jika
ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan
orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa
mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan
kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu
bagi suami dan anak-anak.
Contoh
pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan
penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban
harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu
kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut
oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal. Bisa jadi wanita
shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan
tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia
berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa
didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun
dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang
tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi.
Banyak
wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya
seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan
tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi
juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga
sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.
Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan
ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi
seseorang maka lihatlah teman-teman di sekelilingnya.”
Peran
wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah
mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita
yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia
ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya
ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa
peran tertentu yang serius. Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika
tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan
rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang
nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang
kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita
harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi
istri-istri Rasulullah.
Dengan
terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya,
maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita....
(Dwi Annisa Fitri Asa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar