BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakteristik Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak Usia Dini
Penelitian tentang anak-anak pada mulanya di pusatkan pada bidang spesifik
perilaku anak, misalnya bicara, emosi, minat bermain dan kegiatan. Dengan
demikian minat mulai bergeser sehingga psikologi anak berubah menjadi
perkembangan anak untuk menekankan bahwa pusat perhatian sekarang di arahkan
pada pola perkembangan tertentu.
Periode awal kanak-kanak berlansung dari umur 2 sampai 6 tahun dan periode
akhir dari 6 sampai tiba saatnya anak matang secara seksual. Dengan demikian
awal masa kanak-kanak di mulai sebagai penutup masa bayi sampai usia dimana
ketergantungan secara praktis sudah di lewati, diganti dengan tumbuhnya
kemandirian dan berakhir di sekitar masuk di usia sekolah dasar.
Ciri –ciri masa awal kanak-kanak adalah
sebagai berikut:
1. Usia yang mengandung masalah atau sulit. Masa ini sering membawa masalah
bagi orang tua dan umumnya berkisar pada masalah prilaku perawatan fisik bayi.
2. Usia mainan. Karena anak muda menghabiskan sebagian besar waktu juga
bermain dengan minatnya. Penyelidikan tentang permainan anak menunjukan bahwa
bermain dengan mainan mencapai puncaknya pada tahun-tahun ini.
3. Usia persekolahan. Awal masa kanak-kanak, baik di rumah maupun di sekolah merupakan
masa persiapan.
4. Usia belajar kelompok. Yaitu usia dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar
prilaku sosial yang lebih tinggi yang di perlukan untuk menyesuaikan diri pada
waktu mereka masuk kelas satu.
5. Usia menjelajah dan bertanya.
6. Usia meniru dan usia aktif.
B. Tugas-Tugas Perkembangan
Tugas – tugas perkembangan yang di
maksud dapat terbentuk hal-hal sebagai berikut:
1. Belajar berjalan, hal ini terjadi ketika anak berada pada usia antara 9-15
bulan, karena pada usia ini tulang kaki, otot, dan susunan syarafnya telah
matang untuk belajar berjalan.
2. Belajar makan-makanan padat, hal ini terjadi pada tahun kedua, karena pada
umur tersebut sistem alat pencernaan makanan dan alat pengunyah pada mulut
sudah matang.
3. Belajar berbicara, dengan mengeluarkan suara bermakna dan menyampaikan
kepada orang lain dengan perantaraan suara tersebut. Untuk itu, di perlakukan
kematangan otot-otot dan syraf dari alat-alat bicara. Ada dua pendapat mengenai
cara permulaan anak dalam belajar berbicara, yaitu:
1) Pendapat pertama, mengemukakan bahwa bayi mulai belajar bicara dengan jalan
mengeluarkan macam-macam suara yang tidak berarti (meraban). Kemudian orang di
sekitarnya mengajarkan kepadanya nama-nama atau kata-kata tentang sesuatu
secara teratur dalam situasi tertentu sampai anak belajar mengasosiasikan
(menghubung-hubungkan) suara-suara tertentu dengan benda atau situasi
(perilaku) tertentu. Misalnya, suara “bapak” yang di ucapkan anak secara
kebetulan, kemudian oleh orang di sekitarnya di ulanginya apabila sang ayah
hadir di dekatnya, maka terjadilah asosiasi antara “bapak” dengan orangnya.
2) Pendapat kedua, justru sebaliknya, menurut teori ini suara bayi tidaklah
secara kebetulan tetapi mempunyai arti bagi nya karena suara-suara itu
mengekspresikan (menyatakan) perasaan-perasaannya.
4. Belajar buang air kecil dan besar, sebelum usia 4 tahun. Anak pada umumnya
belum bisa menahan ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan
belum sempurna.
5. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin, melalui observasi yang di lakukan
oleh anak dapat membedakan dari fisik, tingkah laku, pakaian yang di pakai yang
mencerminkan adanya perbedaan jenis kelamin.
6. Mencapai kestabilan jasmaniah fiiologis, keadaan jasmani anak sangat labil
di bandingkan dengan orang dewasa, sehingga anak dengan cepat akan merasakan
perubahan suhu sehingga temperatur tubuhnya berubah. Sehingga untuk mencapai
kestabilan jasmaniah bagi anak di perlukan waktu usia lima tahun.[1]
7. Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam.
Pada mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang kompleks dan
membingungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda dan orang-orang
di sekitarnya. Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat
membentuk generalisasi (kesimpulan) dari berbagai benda yang pada umumnya
mempunyai ciri yang sama. Anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara
tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya di sebut “orang”, “ibu”, dan
“ayah”.
8. Belajar menciptakan hubungan dirinya secara emosional dengan orang tua,
saudara, dan orang lain. anak mengadakan hubungan dengan orang di sekitarnya
menggunakan berbagai cara, yaitu: isyarat, menirukan dan menggunakan bahasa.
Cara yang di peroleh dalam belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang
lain lain sedikit banyak akan menentukan sikapnya di kemudian hari. Apakah ia
bersikap bersahabat, bersikap dingin dan sebagainya. Misalnya, apabila anak
memperoleh pergaulan dengan orang tuanya itu menyenangkan, maka cendrung akan
bersikap ramah dan ceria.
9. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata
hati, anak kecil di kuasai oleh hedonism naif, dimana kenikmatan di
anggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk. Apabila anak bertambah
besar harus belajar baik dan buruk, benar dan salah. Sebab sebagai makhluk
sosial (bermasyarakat ) manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/
kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang
lain. Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini di pengaruhi
oleh pendidikan yang di perolehnya. Pada mulanya anak belajar apa yang di
larang itu berarti buruk atau salah dan apa yang di perbolehkan itu berarti
baik atau benar.[2]
C. Pentingnya Pemahaman Perkembangan Anak Untuk Profesional/ Pendidik Anak
Usia Dini
Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan sumber
daya manusia yang di laksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat,
Jerman, Jepang dan sebagainya, di mulai dengan pengembangan anak usia dini yang
mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh untuk di
laksanakan secara terpadu.
Pentingnya pengembangan anak usia dini sebagai langkah dasar bagi
pengembangan sumber daya manusia juga telah di lakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN
lainya seperti Thailand, Singapura, termasuk negara industri korea selatan.
Bahkan pelayanan anak usia dini di Singapura tergolong paling maju apabila di
bandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Di indonesia pelaksanaan PAUD
masih terkesan ekslusif dan baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun
berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun)
telah di laksanakan di indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukan
anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih
rendah.
Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia
internasional. Dalam pertemuan forum pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar
Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk
semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan
perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat
rawan dan kurang beruntung. Indonesia sebagai anggota forum tersebut terikat
untuk melaksanakan komitmen ini. Perhatian dunia internasional terhadap urgensi
pendidikan anak usia dini di perkuat oleh berbagai penelitian terbaru tentang
otak. Pada saat bayi di lahirkan ia sudah di bekali Tuhan dengan struktur otak
yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi
baru lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu triliyun sel
glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk bertriliyun-triliyun
sambungan neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan.
Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia
dini, yaitu:
1. Menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas
2. Mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena
tingginya prokdutivitas kerja dan daya tahan
3. Meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat
4. Menolong para orang tua dan anak-anak.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Djawad.2007. Psikologi perkembangan anak dan
remaja.Bandung:PT
Rosdakarya.
Susanto, Ahmad.2011.Perkembangan anak usia
dini.Jakarta:Kencana
Santrock, Jhon W. (2007). Perkembangan Anak. Jakarta:
Erlangga.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah berkat taufik dan hidayah Allah, kekuataan dan kerja sama
dapat terbina dengan baik, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul : “Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini”.
Meskipun diakui sudah cukup banyak makalah-makalah tentang pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini dengan berbagai variasinya, namun pada dasarnya
seiring dengan terus berkembangnya dunia
pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kebutuhan akan
literatur perkembangan terus meningkat.
Penulis menyadari betul bahwa apa yang di sajikan dalam makalah ini masih
terdapat banyak kekurangannya, baik menyangkut isi maupun penulisannya.
Kekurangan-kekurangan tersebut terutama di sebabkan kelemahan dan keterbatasan
kemampuan penulis sendiri, baik di sadari maupun tidak. Hanya dengan kearifan
dan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan saran dan kritikan yang
konstruktif, kekurangan-kekurangan tersebut dapat di perkecil sehingga makalah
ini akan memberikan manfaat yang maksimal.
Akhirnya, sekecil apa pun sumbangan yang mungkin dapat di berikan,
mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat, dan diridhoi-Nya. Amin
Batusangkar, 24 Februari 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan mengacu pada fisik tertentu dan peningkatan
ukuran tubuh anak. Bertambahnya jumlah sel-sel, dan juga semakin besarnya
sel-sel yang sudah ada, menyebabkan peningkatan tinggi, berat badan, ukuran
sepatu, panjang lengan, kaki, dan bentuk tubuh. Semua perubahan ini dapat
diukur secara lansung dan dapat di percaya hasilnya.
Perkembangan adalah mengacu pada bertambahnya
kompleksitas perubahan dari sesuatu yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang
sangat sederhana menjadi sesuatu yang lebih rinci.
Pertumbuhan dan perkembangan sangat berkaitan erat. Tanpa
adanya pertumbuhan tidak akan ada perkembangan, maka oleh sebab itu pertumbuhan
dan perkembangan itu berkaitan erat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana karakteristik pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini
2.
Apa-apa saja tugas perkembangan
3. Apa pentingnya pemahaman perkembangan anak usia untuk profesional/ pendidik
anak usia dini.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan
anak usia dini kita harus mengetahui dahulu gimana karakteristik pertumbuhan
dan perkembangan anak usia dini, tugas-tugas apa saja yang harus kita lakukan
dalam mengahadapi anak usia dini tersebut serta berapa pentingnya pemahaman
perkembangan anak untuk profesional/ pendidik anak usia dini. Dengan adanya
hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan tersebut dapat kita
simpulkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan sangat berkaitan. Bahwasannya
dimana ada pertumbuhan pasti akan ada perkembangan.
B.
Saran
1.
Memperbanyak membaca mengenai materi
pertumbuhan dan oerkembangan anak usia dini.
2.
Memperbanyak buku reverensi.

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN KANAK-KANAK
Tetang
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
MASA
KANAK-KANAK
Oleh
IRMA RAMAYANTI
HILDA FAUZIAH
DWI ANNISA FITRI
DOSEN:
YUNINDA TRIA NINGSIH, M.
Psi., Psikolog
PRROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
ISLAM (A)
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar