Kamis, 11 September 2014

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MASA KANAK-KANAK

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakteristik Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak Usia Dini
Penelitian tentang anak-anak pada mulanya di pusatkan pada bidang spesifik perilaku anak, misalnya bicara, emosi, minat bermain dan kegiatan. Dengan demikian minat mulai bergeser sehingga psikologi anak berubah menjadi perkembangan anak untuk menekankan bahwa pusat perhatian sekarang di arahkan pada pola perkembangan tertentu.
Periode awal kanak-kanak berlansung dari umur 2 sampai 6 tahun dan periode akhir dari 6 sampai tiba saatnya anak matang secara seksual. Dengan demikian awal masa kanak-kanak di mulai sebagai penutup masa bayi sampai usia dimana ketergantungan secara praktis sudah di lewati, diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir di sekitar masuk di usia sekolah dasar.
Ciri –ciri masa awal kanak-kanak adalah sebagai berikut:
1.      Usia yang mengandung masalah atau sulit. Masa ini sering membawa masalah bagi orang tua dan umumnya berkisar pada masalah prilaku perawatan fisik bayi.
2.      Usia mainan. Karena anak muda menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan minatnya. Penyelidikan tentang permainan anak menunjukan bahwa bermain dengan mainan mencapai puncaknya pada tahun-tahun ini.
3.      Usia persekolahan. Awal masa kanak-kanak, baik di rumah maupun di sekolah merupakan masa persiapan.
4.      Usia belajar kelompok. Yaitu usia dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar prilaku sosial yang lebih tinggi yang di perlukan untuk menyesuaikan diri pada waktu mereka masuk kelas satu.
5.      Usia menjelajah dan bertanya.
6.      Usia meniru dan usia aktif.


B.     Tugas-Tugas Perkembangan
            Tugas – tugas perkembangan yang di maksud dapat terbentuk hal-hal sebagai berikut:
1.      Belajar berjalan, hal ini terjadi ketika anak berada pada usia antara 9-15 bulan, karena pada usia ini tulang kaki, otot, dan susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan.
2.      Belajar makan-makanan padat, hal ini terjadi pada tahun kedua, karena pada umur tersebut sistem alat pencernaan makanan dan alat pengunyah pada mulut sudah matang.
3.      Belajar berbicara, dengan mengeluarkan suara bermakna dan menyampaikan kepada orang lain dengan perantaraan suara tersebut. Untuk itu, di perlakukan kematangan otot-otot dan syraf dari alat-alat bicara. Ada dua pendapat mengenai cara permulaan anak dalam belajar berbicara, yaitu:
1)      Pendapat pertama, mengemukakan bahwa bayi mulai belajar bicara dengan jalan mengeluarkan macam-macam suara yang tidak berarti (meraban). Kemudian orang di sekitarnya mengajarkan kepadanya nama-nama atau kata-kata tentang sesuatu secara teratur dalam situasi tertentu sampai anak belajar mengasosiasikan (menghubung-hubungkan) suara-suara tertentu dengan benda atau situasi (perilaku) tertentu. Misalnya, suara “bapak” yang di ucapkan anak secara kebetulan, kemudian oleh orang di sekitarnya di ulanginya apabila sang ayah hadir di dekatnya, maka terjadilah asosiasi antara “bapak” dengan orangnya.
2)      Pendapat kedua, justru sebaliknya, menurut teori ini suara bayi tidaklah secara kebetulan tetapi mempunyai arti bagi nya karena suara-suara itu mengekspresikan (menyatakan) perasaan-perasaannya.
4.      Belajar buang air kecil dan besar, sebelum usia 4 tahun. Anak pada umumnya belum bisa menahan ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna.
5.      Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin, melalui observasi yang di lakukan oleh anak dapat membedakan dari fisik, tingkah laku, pakaian yang di pakai yang mencerminkan adanya perbedaan jenis kelamin.
6.      Mencapai kestabilan jasmaniah fiiologis, keadaan jasmani anak sangat labil di bandingkan dengan orang dewasa, sehingga anak dengan cepat akan merasakan perubahan suhu sehingga temperatur tubuhnya berubah. Sehingga untuk mencapai kestabilan jasmaniah bagi anak di perlukan waktu usia lima tahun.[1]
7.      Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam. Pada mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang kompleks dan membingungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda dan orang-orang di sekitarnya. Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat membentuk generalisasi (kesimpulan) dari berbagai benda yang pada umumnya mempunyai ciri yang sama. Anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya di sebut “orang”, “ibu”, dan “ayah”.
8.      Belajar menciptakan hubungan dirinya secara emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain. anak mengadakan hubungan dengan orang di sekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu: isyarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang di peroleh dalam belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain lain sedikit banyak akan menentukan sikapnya di kemudian hari. Apakah ia bersikap bersahabat, bersikap dingin dan sebagainya. Misalnya, apabila anak memperoleh pergaulan dengan orang tuanya itu menyenangkan, maka cendrung akan bersikap ramah dan ceria.
9.      Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata hati, anak kecil di kuasai oleh hedonism naif, dimana kenikmatan di anggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk. Apabila anak bertambah besar harus belajar baik dan buruk, benar dan salah. Sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat ) manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/ kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini di pengaruhi oleh pendidikan yang di perolehnya. Pada mulanya anak belajar apa yang di larang itu berarti buruk atau salah dan apa yang di perbolehkan itu berarti baik atau benar.[2]




C.    Pentingnya Pemahaman Perkembangan Anak Untuk Profesional/ Pendidik Anak Usia Dini

Dalam kondisi seperti ini tentunya sulit bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Pembangunan sumber daya manusia yang di laksanakan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan sebagainya, di mulai dengan pengembangan anak usia dini yang mencakup perawatan, pengasuhan dan pendidikan sebagai program utuh untuk di laksanakan secara terpadu.
Pentingnya pengembangan anak usia dini sebagai langkah dasar bagi pengembangan sumber daya manusia juga telah di lakukan oleh bangsa-bangsa ASEAN lainya seperti Thailand, Singapura, termasuk negara industri korea selatan. Bahkan pelayanan anak usia dini di Singapura tergolong paling maju apabila di bandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Di indonesia pelaksanaan PAUD masih terkesan ekslusif dan baru menjangkau sebagian kecil masyarakat. Meskipun berbagai program perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini usia (0-6 tahun) telah di laksanakan di indonesia sejak lama, namun hingga tahun 2000 menunjukan anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan perawatan dan pendidikan masih rendah.
Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia internasional. Dalam pertemuan forum pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung. Indonesia sebagai anggota forum tersebut terikat untuk melaksanakan komitmen ini. Perhatian dunia internasional terhadap urgensi pendidikan anak usia dini di perkuat oleh berbagai penelitian terbaru tentang otak. Pada saat bayi di lahirkan ia sudah di bekali Tuhan dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya setelah di luar kandungan. Bayi baru lahir memiliki lebih dari 100 milyar neuron dan sekitar satu triliyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron)  yang akan membentuk bertriliyun-triliyun sambungan neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan.

Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu:
1.      Menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas
2.      Mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya prokdutivitas kerja dan daya tahan
3.      Meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat
4.      Menolong para orang tua dan anak-anak.



























DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, Djawad.2007. Psikologi perkembangan anak dan remaja.Bandung:PT
Rosdakarya.
Susanto, Ahmad.2011.Perkembangan anak usia dini.Jakarta:Kencana
Santrock, Jhon W. (2007). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

                                                                  




















KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat taufik dan hidayah Allah, kekuataan dan kerja sama dapat terbina dengan baik, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul : “Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini”.
Meskipun diakui sudah cukup banyak makalah-makalah tentang pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini dengan berbagai variasinya, namun pada dasarnya seiring dengan terus berkembangnya dunia  pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kebutuhan akan literatur perkembangan terus meningkat.
Penulis menyadari betul bahwa apa yang di sajikan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangannya, baik menyangkut isi maupun penulisannya. Kekurangan-kekurangan tersebut terutama di sebabkan kelemahan dan keterbatasan kemampuan penulis sendiri, baik di sadari maupun tidak. Hanya dengan kearifan dan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan saran dan kritikan yang konstruktif, kekurangan-kekurangan tersebut dapat di perkecil sehingga makalah ini akan memberikan manfaat yang maksimal.
Akhirnya, sekecil apa pun sumbangan yang mungkin dapat di berikan, mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat, dan diridhoi-Nya. Amin

Batusangkar, 24 Februari 2014
                                               
Penulis






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pertumbuhan mengacu pada fisik tertentu dan peningkatan ukuran tubuh anak. Bertambahnya jumlah sel-sel, dan juga semakin besarnya sel-sel yang sudah ada, menyebabkan peningkatan tinggi, berat badan, ukuran sepatu, panjang lengan, kaki, dan bentuk tubuh. Semua perubahan ini dapat diukur secara lansung dan dapat di percaya hasilnya.
Perkembangan adalah mengacu pada bertambahnya kompleksitas perubahan dari sesuatu yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang lebih rinci.
Pertumbuhan dan perkembangan sangat berkaitan erat. Tanpa adanya pertumbuhan tidak akan ada perkembangan, maka oleh sebab itu pertumbuhan dan perkembangan itu berkaitan erat.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini
2.      Apa-apa saja tugas perkembangan
3.      Apa pentingnya pemahaman perkembangan anak usia untuk profesional/ pendidik anak usia dini.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini kita harus mengetahui dahulu gimana karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, tugas-tugas apa saja yang harus kita lakukan dalam mengahadapi anak usia dini tersebut serta berapa pentingnya pemahaman perkembangan anak untuk profesional/ pendidik anak usia dini. Dengan adanya hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan tersebut dapat kita simpulkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan sangat berkaitan. Bahwasannya dimana ada pertumbuhan pasti akan ada perkembangan.

B.     Saran
1.      Memperbanyak membaca mengenai materi pertumbuhan dan oerkembangan anak usia dini.
2.      Memperbanyak buku reverensi.












PSIKOLOGI PERKEMBANGAN KANAK-KANAK

Tetang
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
MASA KANAK-KANAK

Oleh
IRMA RAMAYANTI
HILDA FAUZIAH
DWI ANNISA FITRI


                                                                        DOSEN:
YUNINDA TRIA NINGSIH, M. Psi., Psikolog

PRROGRAM STUDI  ILMU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI ISLAM (A)
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
2014












[1] Ahmad Susanto, perkembangan anak usia dini, (jakarta: kencana,2012) hal 31
[2] Djawad Dahlan,Psikologi perkembangan Anak dan remaja,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2007)hal 66

Tidak ada komentar:

Posting Komentar